
Simak bagaimana akses modal produktif kini membuka peluang bagi perempuan mandiri finansial.

Jakarta – Akses pembiayaan yang inklusif menjadi katalisator utama bagi perempuan Indonesia dalam memperkuat kemandirian finansial dan mendorong roda ekonomi nasional.
Data Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo menunjukkan sebanyak 48 persen pengguna baru layanan kredit serta penerima kredit usaha adalah perempuan.
Pencapaian ini krusial mengingat perempuan sering terkendala persyaratan agunan perbankan konvensional, padahal Bank Dunia mencatat 60 persen UMKM di Indonesia dimiliki oleh perempuan.
Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, menyatakan inklusi keuangan harus menjamin kesempatan setara bagi laki-laki dan perempuan dalam mengakses modal.
“Akses kredit yang sesuai kebutuhan dan kemampuan dapat menjadi enabler bagi perempuan untuk mengembangkan usaha, memperkuat kemandirian ekonomi, hingga berdampak pada kesejahteraan keluarga,” ujar Indina.
Tren penggunaan kredit kini bergeser ke sektor produktif dengan pertumbuhan pengguna yang memanfaatkan modal usaha meningkat hingga 15 kali lipat dibandingkan tahun 2019.
Tercatat 54 persen kredit yang disalurkan pada 2025 dialokasikan untuk kebutuhan produktif, sementara jumlah masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo tumbuh 10 kali lipat sejak 2019.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, menilai akses modal tersebut secara langsung meningkatkan kapasitas perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi secara mandiri.
Kredivo mengombinasikan perluasan akses dengan literasi keuangan melalui program seperti Kredinspirasi dan #AutoMikir untuk memastikan pertumbuhan yang sehat.
Sebanyak 65,7 persen pengguna Kredivo kini telah tergolong sebagai kelompok yang memiliki literasi keuangan baik atau well-literate.
Indina menekankan pentingnya keseimbangan antara kemudahan akses pembiayaan dengan tanggung jawab dalam pengelolaan dana.
“Masyarakat harus memiliki akses sekaligus mampu menggunakannya secara bijak sesuai kemampuan finansial masing-masing,” pungkas Indina.