

Jakarta – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memberikan ultimatum kepada operator liga dan seluruh klub peserta untuk segera menuntaskan polemik keamanan suporter tandang dalam waktu satu pekan ke depan.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa otoritas sepak bola nasional siap mengambil langkah tegas menyusul terjadinya insiden penyerangan terhadap bus tim EPA Persib Bandung U-18.
Peristiwa tersebut terjadi di Rest Area 360B pada Minggu, 11 Oktober 2026, dan memicu kecaman luas setelah rekaman video menunjukkan aksi penjarahan bagasi bus oleh oknum suporter.
Erick memberikan tenggat waktu selama tujuh hari bagi pihak liga dan klub untuk merumuskan kesepakatan komprehensif terkait mekanisme kehadiran suporter tim tamu.
“Saya akan memberikan kesempatan kepada liga dan klub untuk mencapai kesepakatan dalam satu minggu ke depan,” ujar Erick saat ditemui pada Selasa (13/10).
Jika kesepakatan tersebut gagal dicapai atau pihak penyelenggara tidak mampu menjamin keselamatan suporter, PSSI akan bertindak.
Opsi pelarangan kembali kehadiran suporter tandang ke stadion kini menjadi pertimbangan serius bagi federasi.
Langkah ini diambil demi memastikan bahwa lingkungan sepak bola nasional tetap kondusif dan aman bagi semua pihak yang terlibat dalam pertandingan.
Selain peninjauan kembali aturan suporter tandang, PSSI juga menyiapkan sanksi yang lebih berat untuk memberikan efek jera.
Federasi kini tengah mendorong penerapan sanksi pengurangan poin bagi klub yang terbukti gagal mengendalikan oknum suporternya.
“Saya juga akan mendorong supaya klub yang tidak mampu menjaga suporternya dikenai sanksi pengurangan poin,” tegas Erick.
Penerapan sanksi administratif berupa pengurangan poin diharapkan mampu menekan angka pelanggaran dan kekerasan yang melibatkan suporter di luar lapangan.
PSSI memandang bahwa tanggung jawab klub terhadap perilaku pendukungnya di ruang publik, seperti area istirahat jalan tol, merupakan bagian integral dari profesionalisme sepak bola.
Insiden yang menimpa rombongan Persib Bandung U-18 di Batang menjadi momentum bagi federasi untuk mengevaluasi kembali standar keamanan liga.
Pihak berwajib saat ini telah menangkap satu terduga pelaku penyerangan dan penjarahan tersebut untuk proses hukum lebih lanjut.
Erick berharap agar seluruh elemen sepak bola dapat bekerja sama menciptakan titik temu yang efektif demi menjaga integritas kompetisi.
Prioritas utama federasi saat ini adalah memastikan bahwa setiap pertandingan, baik di tingkat junior maupun senior, dapat berlangsung tanpa ancaman kekerasan.
Selama masa satu minggu ke depan, PSSI akan memantau perkembangan komunikasi antara operator liga dan manajemen klub terkait protokol keamanan yang baru.
Keputusan final mengenai aturan suporter tandang akan sangat bergantung pada hasil kesepakatan yang dihasilkan oleh klub-klub peserta dalam kurun waktu tersebut.