Ferdy Sambo Ungkap Kedekatan dengan Tuhan Lewat Buku Penjara

isi hati ferdy sambo diungkap lewat buku, eks kadiv propam merasa lebih dekat dengan tuhan selama di penjara

Jakarta – Ferdy Sambo, eks Kadiv Propam dan Inspektur Jenderal Polisi, mengaku merasa lebih dekat dengan Tuhan setelah tiga tahun terakhir mendekam di balik jeruji.

Sebelumnya, Ferdy Sambo divonis penjara seumur hidup setelah didakwa menjadi dalang pembunuhan ajudannya, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Nama Ferdy Sambo kembali mencuat ke publik setelah merilis dua buku meski masih menjalani masa hukuman di penjara.

Pengumuman itu pertama kali dibagikan melalui akun Instagram yang dikelola admin @ferdysambo_official pada Juni lalu.

Dua buku tersebut berjudul Ibadah di Balik Jeruji dan Firman di Ruang Terbatas.

Keduanya memuat isi hati Ferdy Sambo selama hidup di balik jeruji, sekaligus curahan terkait hubungannya dengan Sang Pencipta.

Buku Ibadah di Balik Jeruji mengulas penyesalan yang terus hadir dalam diri Ferdy Sambo selama mendekam di penjara.

Namun, di balik penyesalan itu, hukuman justru disebut membuat Ferdy Sambo semakin dekat dengan dirinya sendiri, sesama, dan Sang Pencipta.

Dalam buku pertamanya, Ferdy Sambo juga mengutip Kisah Para Rasul 2:42. Ia meyakini kasih Tuhan akan selalu menuntunnya pada hal yang benar.

“Penulis meyakini bahwa kasih Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan keadaan; bahkan dalam keterbatasan, iman dapat bertumbuh, harapan dipulihkan, dan kehidupan diarahkan kembali kepada tujuan yang benar,” demikian penggalan sinopsis buku Ibadah di Balik Jeruji.

Sementara itu, buku Firman di Ruang Terbatas membahas hal yang lebih dalam. Dalam buku ini, Ferdy Sambo meyakini firman Tuhan dapat menguatkan hati seseorang.

Buku kedua tersebut disebut lebih diperuntukkan bagi warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Buku ini juga diklaim dapat digunakan pembina rohani saat khotbah.

“Karya ini disusun untuk menghadirkan Firman Tuhan secara utuh, bertanggung jawab secara teologis, dan relevan bagi pelayanan serta pembinaan rohani, khususnya dalam lingkungan yang penuh keterbatasan seperti lembaga pemasyarakatan,” bunyi pesan dalam buku kedua.

Rekomendasi