

Mandalika – Pembalap tim Monster Energy Yamaha, Alex Rins, mengaku telah menerima serangkaian ancaman kekerasan hingga pembunuhan pasca insiden di lintasan MotoGP Indonesia 2026.
Tekanan tersebut muncul setelah Rins terlibat perselisihan dengan petugas lintasan atau marshal pada sesi latihan resmi yang berlangsung Kamis (8/10/2026).
Insiden bermula ketika Rins mengalami kecelakaan dan berupaya meminta bantuan marshal untuk segera kembali ke area pit box.
Namun, terjadi kendala komunikasi di lapangan yang menyebabkan para petugas tidak segera memberikan bantuan transportasi ke area paddock.
Frustrasi dengan situasi tersebut, Rins menunjukkan gestur jari tengah ke arah petugas yang kemudian terekam kamera dan memicu gelombang kritik dari publik.
Pembalap asal Spanyol tersebut segera memberikan klarifikasi serta permohonan maaf terbuka melalui akun media sosial pribadinya.
Rins mengakui bahwa tindakannya tidak dapat dibenarkan, terlepas dari ketegangan yang ia rasakan saat berada di atas lintasan.
“Saya ingin menjelaskan apa yang terjadi setelah kecelakaan yang saya alami,” ujar Rins dalam pernyataan resminya.
Ia mengakui adanya kesalahpahaman komunikasi dengan petugas saat dirinya berusaha kembali ke area tim untuk melanjutkan sesi.
“Itu adalah momen yang menegangkan, dan saya bereaksi dengan cara yang seharusnya tidak saya lakukan,” lanjut Rins.
Rins secara khusus menyoroti tanggung jawabnya sebagai figur publik yang menjadi sorotan bagi para penggemar balap motor.
“Saya meminta maaf atas gestur yang saya tunjukkan. Itu tidak pantas, terutama karena saya tahu para penggemar muda sedang menyaksikan kami,” ungkapnya.
Ia pun menegaskan bahwa dirinya menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap dedikasi para marshal yang bertugas menjaga keselamatan pembalap.
“Saya sangat menghormati para marshal dan pekerjaan yang mereka lakukan,” tegas Rins.
Meski telah menyampaikan permohonan maaf, Rins mengungkapkan keresahannya terkait reaksi ekstrem dari segelintir pihak di media sosial.
Ia mengaku telah menerima ancaman yang mengarah pada kekerasan fisik dan ancaman pembunuhan sebagai buntut dari insiden tersebut.
“Saya juga menerima beberapa komentar yang sangat serius, termasuk yang menyinggung soal kematian dan kekerasan,” kata Rins.
Rins memahami bahwa tindakannya memicu kekecewaan di kalangan penggemar, namun ia menegaskan bahwa intimidasi bukanlah bentuk kritik yang dapat ditoleransi.
“Saya mengerti mengapa orang-orang merasa kesal dengan reaksi saya, tetapi ancaman dan kata-kata kasar tidak boleh dibiarkan begitu saja,” tuturnya.
Pembalap bernomor start 42 ini menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas sikapnya yang kurang terpuji di lintasan.
“Kita semua bisa melakukan kesalahan, dan saya bertanggung jawab atas kesalahan saya,” pungkas Rins.
Hingga hari ini, Minggu (11/10/2026), belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak penyelenggara terkait apakah ancaman tersebut akan ditindaklanjuti secara hukum.
Insiden ini menjadi pengingat mengenai ketatnya tekanan yang dihadapi para pembalap kelas dunia saat berlaga di depan publik.
Dinamika antara pembalap dan petugas lintasan di Sirkuit Mandalika terus menjadi perhatian utama di tengah berlangsungnya seri balapan musim ini.