

Ichinomiya – Tim beregu putri Indonesia harus menghentikan langkah mereka di babak semifinal cabang olahraga bulu tangkis Asian Games 2026.
Skuad Merah Putih dipastikan gagal melaju ke partai puncak setelah menelan kekalahan telak 0-3 dari China.
Pertandingan yang berlangsung di Ichinomiya City Municipal Gymnasium pada Rabu (23/9/2026) tersebut menunjukkan dominasi kuat dari tim Negeri Tirai Bambu.
Tiga wakil Indonesia yang diturunkan dalam laga tersebut tidak mampu mencuri satu angka pun dari lawan.
Putri Kusuma Wardani, pasangan ganda Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, serta Mutiara Ayu Puspitasari harus mengakui keunggulan lawan masing-masing.
Kekalahan ini memastikan Indonesia tidak dapat melangkah lebih jauh ke babak final.
Namun, hasil ini tidak membuat perjuangan tim putri Indonesia sia-sia karena mereka tetap dipastikan membawa pulang medali perunggu dari ajang Asian Games 2026.
Mutiara Ayu Puspitasari, yang turun sebagai tunggal ketiga, menjadi wakil terakhir yang bertanding saat kondisi Indonesia sudah tertinggal 0-2.
Menghadapi pemain papan atas dunia, Chen Yufei, Mutiara harus menyerah dengan skor 15-21 dan 12-21.
Meski gagal menyumbang poin bagi tim, Mutiara memandang pertandingan tersebut sebagai momentum evaluasi yang sangat berharga.
Ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran teknis setelah merasakan langsung kualitas permainan dari Chen Yufei.
“Saya mencoba fokus pada pertandingan sendiri dan tidak terlalu memikirkan hasil sebelumnya,” ujar Mutiara.
Ia mengakui bahwa menghadapi pemain sekaliber Chen memberikan tantangan tersendiri, terutama dalam hal kematangan taktik di lapangan.
“Menghadapi Chen menjadi tantangan tersendiri karena dia sangat matang dalam membaca permainan,” tambah Mutiara.
Menurut atlet berusia 20 tahun tersebut, Chen memiliki kemampuan luar biasa dalam mengeksploitasi kelemahan lawan.
Mutiara menyoroti kecepatan Chen dalam mendeteksi celah serta konsistensi tekanan pukulan yang diberikan sepanjang pertandingan.
“Dia cepat menemukan celah dalam permainan saya,” ungkapnya.
Selain aspek kecepatan, Mutiara juga menyoroti keunggulan strategi yang diterapkan oleh tunggal putri China tersebut.
“Tekanan pukulan dan strateginya juga sangat baik,” kata Mutiara.
Ia menegaskan bahwa pengalaman berhadapan dengan pemain kelas dunia ini akan ia gunakan sebagai bahan introspeksi untuk meningkatkan performa di masa depan.
“Dari pertandingan ini saya jadi tahu bagian mana yang harus saya perbaiki,” tandasnya.
Sementara itu, di babak final, tim China dijadwalkan akan berhadapan dengan Jepang.
Jepang berhasil melaju ke partai puncak setelah melalui persaingan sengit di babak semifinal.
Kekalahan ini menjadi catatan tersendiri bagi pembinaan bulu tangkis putri Indonesia dalam menghadapi persaingan di level Asia yang semakin ketat.
Meski harus terhenti di babak empat besar, perolehan medali perunggu tetap menjadi capaian yang patut diapresiasi bagi Srikandi Merah Putih.
Seluruh anggota tim kini diharapkan dapat memetik pengalaman berharga dari turnamen multievent ini untuk menghadapi kompetisi internasional berikutnya.