Bencana Aceh: 249 Meninggal, 227 Hilang, Pencarian Intensif Dilakukan

Aceh – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh hingga hari kelima penanganan darurat, Selasa (2/12/2025) malam, telah menewaskan 249 orang dan menyebabkan 227 lainnya hilang. Musibah ini berdampak pada lebih dari 1,4 juta jiwa yang tersebar di 18 kabupaten/kota.

Data terbaru menyebutkan, bencana banjir dan longsor ini mengenai 229.767 kepala keluarga atau 1.452.185 jiwa. Dampak kerusakannya mencakup 229 kecamatan dan 3.310 gampong, atau lebih dari 50 persen dari total gampong di Aceh.

Selain korban jiwa, pemerintah juga mencatat 1.435 warga mengalami luka ringan dan 403 luka berat. Asisten II Sekda Aceh, Dr. Ir. Zulkifli, M.Si, dalam rapat koordinasi di Pos Komando Tanggap Darurat, menegaskan perlunya percepatan evakuasi lanjutan, terutama pada wilayah yang belum terjangkau tim SAR.

Jumlah titik pengungsian saat ini mencapai 828 lokasi, menampung 157.321 kepala keluarga atau 660.642 jiwa. Mereka bertahan di pengungsian karena rumah mereka rusak atau tidak lagi layak huni.

Kerusakan fasilitas umum juga meluas, meliputi 138 kantor, 51 tempat ibadah, 201 sekolah, dan 4 pondok pesantren. Infrastruktur jalan rusak di 302 titik, sementara 152 jembatan mengalami kerusakan parah.

Sebanyak 77.049 unit rumah dilaporkan rusak. Sektor pertanian juga terpukul dengan kerusakan 139.444 hektare sawah dan 12.012 hektare kebun, serta kematian 182 ekor ternak.

Hingga hari kelima, Posko Aceh telah menerima 8.703 item logistik atau setara 51.216 ton. Dari jumlah tersebut, 6.656 item (28.605 ton) telah disalurkan, menyisakan sekitar 22.711 ton logistik di berbagai titik penyimpanan.

“Masih ada lokasi yang belum mendapatkan bantuan sama sekali,” ujar Zulkifli. Ia menekankan perlunya identifikasi jelas untuk mengetahui kendala distribusi. “Jika harus diangkut melalui udara, posko di Lanud sudah siap mendukung,” tambahnya.

Pemerintah menargetkan percepatan penyaluran logistik serta penguatan upaya pemulihan di lapangan dalam beberapa hari ke depan, terutama ke wilayah terisolir dan titik pengungsian yang padat.

Rekomendasi