BI Rate Naik, Investor Obligasi Ubah Strategi: Fokus Imbal Hasil Riil

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen. Keputusan ini mengubah arah pasar obligasi domestik.

Investor kini fokus menjaga stabilitas dan imbal hasil riil, bukan lagi mengejar capital gain.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan kebijakan BI bertujuan memperkuat nilai tukar rupiah.

Langkah ini diambil di tengah tekanan global, kenaikan harga energi, dan risiko inflasi akibat konflik Timur Tengah.

Tekanan eksternal dipicu lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.

Tren kupon obligasi baru diperkirakan terus meningkat atau bertahan tinggi hingga akhir tahun.

Pemerintah dan korporasi perlu menawarkan imbal hasil menarik agar investor tetap berminat.

Saat ini, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun berada di level 92,11.

Data PHEI mencatat yield SUN tenor lima tahun 6,73 persen, tenor 10 tahun 6,85 persen.

Obligasi korporasi rating AAA, yield tenor lima tahun 7,13 persen dan tenor 10 tahun 7,40 persen.

Josua menyebut, permintaan lelang SUN melemah sebelum BI menaikkan suku bunga.

Investor meminta imbal hasil lebih tinggi. Setelah kenaikan BI Rate, pasar akan meminta kompensasi imbal hasil lebih besar.

Kupon SBN ritel baru berpotensi lebih menarik dari seri awal tahun.

Hal serupa berlaku untuk obligasi korporasi, terutama kualitas kredit menengah.

Investor ritel konservatif disarankan memperbesar porsi obligasi pemerintah.

Volatilitas global masih tinggi dan risiko pasar belum sepenuhnya mereda.

Peringkat kredit Indonesia masih investment grade.

Obligasi Fixed Rate (FR) di pasar sekunder mulai menarik bagi investor yang memahami risiko harga.

Kenaikan yield membuat harga sejumlah seri FR terkoreksi.

Instrumen FR cocok untuk investor yang siap menghadapi fluktuasi harga harian.

SBN ritel lebih sesuai bagi investor yang menginginkan pendapatan stabil.

Investor ritel sebaiknya fokus pada obligasi tenor pendek hingga menengah.

Tenor pendek dinilai lebih aman karena sensitivitasnya lebih rendah terhadap kenaikan suku bunga.

Risiko suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer) masih cukup besar.

Strategi investasi sebaiknya dilakukan bertahap dan fokus pada pendapatan kupon rutin.

Yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan masih bertahan tinggi dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Dalam jangka menengah 6 hingga 12 bulan, yield berpotensi stabil dan turun bertahap jika situasi geopolitik mereda dan nilai tukar rupiah stabil.

Rekomendasi