

Jakarta – Tim kuasa hukum keluarga Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai mengungkapkan temuan mengejutkan terkait insiden penembakan yang menewaskan kliennya di Markas Ditpoludara Korpolairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Pengacara keluarga, Petrus Bala Pattyona, menyatakan pihaknya menerima informasi adanya empat proyektil peluru yang bersarang di dalam kepala korban.
Informasi ini diperoleh tim hukum setelah proses autopsi jenazah korban di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Meski belum disampaikan secara resmi oleh otoritas medis, Petrus mengaku mendapatkan keterangan tersebut dari sumber yang kompeten.
“Dan kebetulan saat autopsi, memang tim dari Rumah Sakit Kramat Jati, tetapi ada ya ada orang yang berbaik hati bisa memberikan penjelasan tidak resmi kepada kami bahwa di dalam kepala almarhum ada empat proyektilnya,” ujar Petrus saat ditemui di Polda Metro Jaya, Senin (19/10).
Selain temuan proyektil di kepala, tim kuasa hukum juga mengantongi informasi mengenai sisa amunisi dalam senjata laras panjang yang digunakan pelaku, Bharada Andika Ramadhani.
Petrus menyebutkan bahwa senjata yang diduga digunakan dalam penembakan tersebut masih berisi tiga butir peluru.
Keterangan ini menjadi poin krusial yang dipertanyakan oleh pihak keluarga dalam upaya mengungkap kebenaran di balik insiden tersebut.
Petrus menegaskan bahwa detail mengenai kondisi senjata dan luka pada tubuh korban memerlukan penjelasan resmi dari pihak kepolisian.
Pihak keluarga saat ini telah memegang dokumentasi berupa foto-foto kondisi jenazah korban pascakejadian.
Berdasarkan foto tersebut, ditemukan luka yang cukup parah pada bagian kepala, leher, dan lengan korban.
“Jadi di kepala itu, maaf ya, terbelah. Kemudian ada sabetan di leher sini, kemudian ada di lengan,” jelas Petrus.
Keluarga korban juga menyoroti kondisi medis saat korban pertama kali dilarikan ke rumah sakit.
Menurut informasi yang diterima pihak pengacara, korban mengalami pendarahan hebat sesaat setelah insiden penembakan terjadi.
“Dan ketika dia almarhum itu dibawa ke Rumah Sakit Hermina, itu memang darahnya sangat banyak,” tambahnya.
Hingga saat ini, pihak keluarga melalui tim kuasa hukum terus mendesak agar transparansi terkait hasil autopsi dan proses hukum terhadap Bharada Andika Ramadhani segera dibuka secara luas.
Fakta-fakta mengenai jumlah proyektil serta kondisi luka yang dialami korban menjadi sorotan utama dalam penyelidikan kasus penembakan di lingkungan kepolisian ini.
Keluarga berharap agar investigasi berjalan objektif dan akuntabel guna memastikan keadilan bagi mendiang Bharatu Laurentius Valdo Fernandez Lawai.
Pihak pengacara menyatakan akan terus mengawal proses hukum ini hingga motif dan seluruh rangkaian kejadian penembakan tersebut terungkap secara transparan di hadapan publik dan hukum.