

Jakarta – Timnas Indonesia resmi menyandang status sebagai tim yang paling diunggulkan dalam persaingan Grup A pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026.
Prediksi tersebut datang langsung dari pelatih kepala tim nasional Malaysia, Tan Cheng Hoe, yang menyoroti kekuatan skuad Garuda saat ini.
Tan Cheng Hoe menilai keunggulan Indonesia tidak hanya terletak pada kualitas individu pemain yang merata di setiap lini.
Faktor menjadi tuan rumah bagi seluruh pertandingan Divisi 1 memberikan keuntungan psikologis dan teknis yang signifikan bagi tim asuhan John Herdman tersebut.
“Semua orang tahu Indonesia akan menjadi favorit di grup,” ujar Tan Cheng Hoe sebagaimana dikutip dari laman resmi FIFA pada Rabu, 23 September 2026.
Meski menempatkan Indonesia sebagai ancaman utama, pelatih berusia 58 tahun tersebut menegaskan bahwa Malaysia tidak boleh hanya fokus pada satu lawan saja.
Harimau Malaya dituntut untuk tetap waspada terhadap dua kontestan lain di grup yang sama, yakni Singapura dan Bangladesh.
Tan secara khusus menyoroti kehadiran Bangladesh yang kini berada di bawah arahan pelatih berpengalaman, Thomas Doley.
Menurutnya, reputasi Doley di kancah sepak bola Asia Tenggara merupakan faktor yang wajib diantisipasi oleh seluruh pemain Malaysia.
“Tentu saja kami tidak bisa meremehkan Bangladesh yang dilatih Thomas Doley, salah satu pelatih berpengalaman di Asia Tenggara,” tegasnya.
Pertemuan antara Indonesia dan Malaysia sendiri dijadwalkan berlangsung pada 28 Agustus di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Laga ini diprediksi akan menjadi sorotan utama mengingat tingginya tensi rivalitas kedua negara di panggung sepak bola regional.
Selain Malaysia, Indonesia juga akan berhadapan dengan Singapura dan Bangladesh untuk memperebutkan tiket ke babak final.
FIFA ASEAN Cup 2026 kali ini menghadirkan format kompetisi baru yang terbagi ke dalam dua divisi dengan tingkat persaingan berbeda.
Divisi 1 diikuti oleh delapan negara yang terbagi ke dalam dua grup, sementara enam negara lainnya berkompetisi di Divisi 2.
Tan Cheng Hoe mengakui bahwa catatan performa di Piala AFF 2026 tidak bisa dijadikan tolok ukur utama kekuatan tim saat ini.
Ia menekankan bahwa FIFA ASEAN Cup 2026 memiliki tantangan unik, terutama terkait jadwal pertandingan yang sangat padat bagi setiap kontestan.
Setiap tim diwajibkan menjalani tiga pertandingan dalam durasi waktu yang sangat singkat, sehingga kedalaman skuad menjadi kunci utama.
Rotasi pemain akan menjadi strategi krusial bagi pelatih untuk menjaga stamina dan performa tim di sepanjang turnamen.
“Harus bermain tiga kali sepekan adalah sulit, jadi kami butuh kedalaman skuad untuk membuat kami bisa rotasi,” jelas Tan.
Ia menambahkan bahwa turnamen ini merupakan momentum penting untuk mengukur sejauh mana perkembangan skuadnya di level regional.
Format turnamen yang tidak menyediakan babak semifinal menambah tingkat kesulitan bagi seluruh tim yang berlaga di Divisi 1.
Juara dari Grup A dan Grup B nantinya akan langsung dipertemukan dalam pertandingan final untuk memperebutkan gelar juara.
Sementara itu, dua tim yang menempati posisi runner-up akan saling berhadapan untuk memperebutkan peringkat ketiga.
Seluruh pertandingan Divisi 1 akan dipusatkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Si Jalak Harupat.
Indonesia dijadwalkan membuka kiprah mereka dengan menghadapi Singapura pada 25 September mendatang.
Langkah Skuad Garuda kemudian berlanjut dengan laga melawan Malaysia pada 28 September, sebelum menutup fase grup melawan Bangladesh pada 1 Oktober.