

BANDUNG – Pelatih Manila Digger, Joan Esteva, mengakui ketiadaan penonton dalam laga play-off AFC Champions League Two (ACL 2) melawan Persib Bandung memberikan sedikit keuntungan teknis bagi timnya.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, pada Senin (31/8) malam tersebut terpaksa digelar tertutup sebagai konsekuensi dari sanksi yang dijatuhkan oleh AFC.
Absennya suporter tuan rumah secara otomatis menghilangkan tekanan atmosfer yang biasanya diberikan oleh pendukung setia Persib, Bobotoh, di sepanjang jalannya pertandingan.
Namun, di balik keuntungan tersebut, Joan Esteva justru mengungkapkan rasa kecewanya karena tidak bisa merasakan pengalaman bertanding di tengah gemuruh stadion yang penuh.
Menurut pelatih asal Spanyol tersebut, kehadiran suporter merupakan elemen krusial yang membuat sepak bola menjadi tontonan yang menarik bagi semua pihak.
“Sejujurnya, kami semua ingin bermain di depan pendukung Persib, dan tentu saja pendukung kami, serta semua orang yang mencintai sepak bola dan suka menonton sepak bola,” ungkap Esteva di Bandung, Selasa (1/9).
Esteva menilai bahwa dukungan dari Bobotoh biasanya menjadi energi tambahan yang membuat Persib tampil jauh lebih kuat dan dominan saat bermain di kandang sendiri.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa keuntungan yang didapatkan Manila Digger akibat laga tanpa penonton ini hanyalah dampak yang sangat minim bagi timnya.
“Namun sayangnya, keadaannya tidak seperti itu dan kami harus memainkan pertandingan dalam kondisi yang berbeda,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa timnya tidak ingin terjebak dalam situasi tersebut dan memilih untuk tetap fokus pada persiapan taktis di lapangan.
“Ini adalah keuntungan yang sangat kecil bagi kami, karena tentu saja Persib dengan dukungan penggemar, mereka pasti akan lebih kuat,” tambahnya.
Pandangan senada juga disampaikan oleh bek kanan Manila Digger, Zachary Taningco, yang turut menantikan atmosfer stadion yang meriah.
Taningco menyatakan bahwa para pemain Manila Digger sebenarnya sangat antusias untuk merasakan gairah dan fanatisme suporter Persib yang sudah terkenal luas.
“Bagi kami, kami pikir tentu saja seperti yang dikatakan pelatih kami, kami ingin merasakan gairah dari pendukung Persib Bandung,” ujar Taningco.
Bagi Taningco, kehadiran penonton bukan sekadar alat untuk menekan lawan, melainkan bagian integral dari esensi sepak bola itu sendiri.
Ia memandang bahwa atmosfer yang tercipta di dalam stadion adalah hal yang dinantikan oleh setiap pemain profesional saat melakoni laga penting di kompetisi internasional.
“Bukan hanya sebagai Manila Digger atau klub sepak bola lainnya, tetapi hanya sebagai penggemar sepak bola dan pemain sepak bola,” jelasnya.
Meski demikian, pihak manajemen dan seluruh skuad Manila Digger kini telah mengalihkan fokus sepenuhnya untuk menatap pertandingan.
Mereka berkomitmen untuk melupakan situasi tanpa penonton tersebut dan bekerja keras demi meraih hasil maksimal di ajang ACL 2.
“Ini adalah situasi yang ada sekarang. Jadi, sekarang kami hanya fokus pada permainan dan mencapai tujuan kami untuk tampil baik,” pungkas Taningco.