Ancaman ISPA Mengintai, Anak-anak Menjadi Korban di Tengah Kabut Asap

Lonjakan kasus ISPA pada puluhan ribu balita akibat kabut asap karhutla kini dikategorikan sebagai kedaruratan kesehatan.

Samarinda – Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang sedikitnya 62.400 balita di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini dikategorikan sebagai kedaruratan kesehatan. Kondisi ini mencerminkan ancaman serius setara dengan krisis penyakit menular yang menuntut respons cepat dan sistematis dari pemerintah.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, menegaskan bahwa angka puluhan ribu tersebut hanyalah puncak dari fenomena gunung es. Ia meyakini jumlah riil kasus di lapangan, terutama di Sumatra dan Kalimantan, jauh lebih besar karena banyak penderita yang tidak tercatat atau belum terdiagnosis secara medis.

Situasi kian memprihatinkan setelah muncul laporan kematian anak di tengah kepungan kabut asap. Salah satunya adalah balita berusia 14 bulan, Yazlyn Syanindita, di Samarinda, Kalimantan Timur, yang meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan berat. Ibu korban, Cindy, mendesak pemerintah untuk tidak mengabaikan dampak nyata kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.

Pemerintah jangan buta dan jangan menganggap enteng kondisi asap ini, tegas Cindy. Ia mengungkapkan bahwa di ruang rawat inap rumah sakit tempat anaknya dirawat, terdapat sejumlah balita lain yang juga mengalami sesak napas akibat paparan polusi udara.

Dokter Spesialis Anak, Fifi Sofiah, menjelaskan bahwa ancaman utama dari karhutla adalah partikel polutan PM2.5 yang berukuran jauh lebih kecil dari rambut manusia. Partikel yang tidak kasat mata ini mampu menembus saluran pernapasan hingga ke aliran darah. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena memiliki frekuensi napas lebih tinggi dibandingkan orang dewasa serta sistem imun yang masih dalam tahap perkembangan.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA telah terdeteksi di 63 kabupaten atau kota hingga 12 Oktober 2026. Dari total tersebut, sekitar 22,5 persen atau 62.400 kasus menimpa balita. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker saat berada di zona terdampak.

Hermawan Saputra menambahkan bahwa jika tidak segera ditangani, paparan asap jangka panjang ini akan mengganggu program kesehatan nasional lainnya seperti penanganan stunting dan tuberkulosis. Ia mendesak pemerintah memperkuat fasilitas di puskesmas, termasuk ketersediaan masker, oksigen, dan tenaga medis, serta memastikan sistem rujukan berfungsi optimal bagi pasien dengan komorbid.

Pihak medis menekankan pentingnya mitigasi di tingkat rumah tangga, seperti menciptakan ruang udara bersih, menghindari sumber polusi dalam rumah, dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika ditemukan gejala sesak napas atau penurunan kesadaran. Hingga saat ini, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra, memicu kekhawatiran meluas akan keselamatan kelompok rentan di tengah kondisi udara yang masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Rekomendasi