

Yogyakarta – Manajemen PSIM Yogyakarta secara resmi menerapkan kebijakan kesetaraan mutlak bagi seluruh anggota skuad untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027.
Pihak klub menegaskan bahwa tidak akan ada perbedaan perlakuan, baik dari segi fasilitas maupun apresiasi, antara pemain lokal maupun pemain asing.
Langkah ini diambil guna memastikan terciptanya iklim profesionalisme yang sehat di dalam tim tanpa adanya sekat kewarganegaraan.
Manajer PSIM Yogyakarta, M. Iksan Mahar, menyatakan bahwa prinsip utama yang dianut manajemen adalah memandang seluruh pemain sebagai atlet profesional yang memiliki hak dan kewajiban serupa.
“Saya memandang mereka sebagai profesional, jadi pemain lokal dan asing tidak ada yang kami beda-bedakan,” ujar Iksan saat dihubungi pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Kebijakan kesetaraan ini mencakup aspek krusial seperti besaran gaji, skema bonus, hingga penyediaan fasilitas penunjang performa pemain.
Manajemen menekankan bahwa setiap pemain memiliki hak yang sama sesuai dengan kebijakan internal yang telah disepakati bersama.
Pihak klub meyakini bahwa membangun tim yang solid tidak cukup hanya dengan mendatangkan pemain berkualitas secara individu.
Kekompakan di luar lapangan menjadi modal fundamental bagi skuad sebelum mereka berkompetisi memperebutkan posisi utama di lapangan hijau.
Manajemen berupaya memenuhi seluruh kebutuhan pemain secara merata tanpa melihat latar belakang asal-usul negara mereka.
Namun, ketika memasuki arena pertandingan, standar tuntutan bagi setiap pemain tetap berada pada level yang sama tinggi.
Seluruh pemain diwajibkan untuk menunjukkan performa terbaik demi memberikan kontribusi maksimal bagi kejayaan klub.
“Tidak ada perlakuan atau treatment berbeda yang saya dan tim manajemen berikan kepada para pemain,” tegas Iksan.
Kebijakan ini sekaligus menjadi pesan tegas bahwa persaingan internal di tubuh PSIM akan ditentukan sepenuhnya oleh kualitas dan kontribusi nyata di atas lapangan.
Label sebagai pemain lokal atau asing tidak akan memberikan keistimewaan apa pun dalam penentuan komposisi tim.
Manajemen berharap penerapan prinsip keadilan ini mampu memupuk rasa kebersamaan yang lebih kuat dalam menghadapi kerasnya kompetisi mendatang.
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah menyatukan seluruh elemen tim di bawah satu kepentingan besar, yakni mengangkat prestasi PSIM Yogyakarta setinggi mungkin.
Iksan optimistis bahwa dengan menghilangkan sekat perbedaan, para pemain dapat lebih fokus pada target kolektif klub.
“Siapa pun nanti yang main, lokal maupun asing, atau siapa pun nanti yang mencetak gol, intinya semuanya demi kebaikan PSIM,” tutup Iksan.
Penerapan standar operasional yang seragam ini juga menjadi komitmen manajemen dalam menjaga stabilitas internal selama mengarungi musim 2026/2027.
Dengan tidak adanya hak istimewa, diharapkan motivasi setiap pemain untuk bersaing secara sehat akan terus meningkat sepanjang musim berjalan.