

Sleman – PSS Sleman harus menelan pil pahit dalam laga kandang perdana mereka pada pekan kedua BRI Super League 2026/27.
Tim berjuluk Super Elang Jawa tersebut takluk di hadapan lebih dari 14.000 pendukungnya sendiri di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada Sabtu (12/9).
Madura United FC berhasil mencuri poin penuh setelah menundukkan tuan rumah dengan skor akhir 1-3.
Kekalahan ini menandai tren negatif bagi PSS Sleman yang harus menelan dua kekalahan beruntun di awal musim kompetisi tahun ini.
Dominasi Madura United terlihat jelas melalui dua gol yang dicetak oleh Dimitar Mitkov pada menit ke-45 dan menit ke-67.
Sementara itu, Danilo Santacruz turut memperlebar keunggulan tim tamu lewat gol cepat yang tercipta pada menit ke-46.
Satu-satunya gol balasan bagi PSS Sleman baru tercipta pada menit ke-84 melalui aksi striker Matheus Fornazari.
Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, mengakui bahwa timnya memiliki celah mendasar di lini pertahanan yang berhasil dieksploitasi oleh lawan.
Ia menyoroti kurangnya konsentrasi pemain dalam mengantisipasi serangan lawan pada momen-momen krusial pertandingan.
“Kami terlalu mudah kebobolan gol lagi. Itu adalah sesuatu yang harus kami perbaiki,” ujar Pieter Huistra selepas pertandingan.
Menurut juru taktik asal Belanda tersebut, timnya sebenarnya sempat memegang kendali permainan sepanjang babak pertama.
Namun, konsentrasi pemain buyar setelah tim tamu mencetak gol tak terduga tepat sebelum turun minum.
“Babak pertama kami bermain cukup memegang kendali. Madura United sepertinya tidak memiliki peluang sama sekali pada babak pertama sampai menit-menit akhir,” jelas Huistra.
Ia menambahkan bahwa gol lawan menjelang akhir babak pertama menjadi titik balik yang merusak ritme permainan anak asuhnya.
Selain kerapuhan di lini belakang, Huistra juga menyoroti masalah akut pada penyelesaian akhir barisan penyerang tim.
Banyaknya peluang yang tercipta sepanjang laga terbuang percuma karena kurangnya ketajaman di depan gawang lawan.
“Kami memiliki banyak peluang. Kami harus lebih efektif dalam mencetak gol,” tegas mantan pelatih Borneo FC tersebut.
Status sebagai tim promosi membuat dua kekalahan beruntun ini menjadi tantangan mental yang cukup berat bagi skuad Super Elang Jawa.
Meski demikian, Huistra tetap menaruh optimisme bahwa timnya memiliki potensi besar untuk segera berbenah.
“Bukan hal yang bagus memulai kompetisi dengan kekalahan, apalagi ketika Anda baru promosi, memulai dengan dua kekalahan,” ungkapnya.
Ia meyakini bahwa kualitas pemain yang dimiliki saat ini masih memiliki ruang yang cukup luas untuk berkembang.
“Saya pikir ada cukup kualitas di tim dan PSS akan memiliki banyak ruang untuk tumbuh,” sambungnya.
Huistra juga memberikan apresiasi tinggi terhadap loyalitas suporter yang terus memberikan dukungan moril meski tim berada dalam situasi sulit.
Dukungan tersebut dianggap sebagai modal berharga agar pemain tidak kehilangan motivasi untuk bangkit di laga berikutnya.
“Hal yang baik adalah para suporter tetap berdiri di belakang kami dan para pemain juga tidak menyerah. Kami harus berbuat lebih baik,” tutup Huistra.