

KUDUS – Pelatih tim nasional U-16 putri Indonesia, Timo Scheunemann, menegaskan komitmennya untuk tetap berfokus pada pengembangan pemain muda daripada menangani tim nasional senior.
Pria berusia 52 tahun tersebut secara terbuka menyatakan tidak memiliki ambisi untuk memegang kendali timnas level senior dalam waktu dekat.
Timo mengungkapkan bahwa ia lebih nyaman menempatkan dirinya sebagai sosok yang menjaring dan membina talenta-talenta muda tanah air.
Keputusan ini disampaikan Timo di tengah momentum keberhasilannya mengantarkan timnas U-16 putri meraih posisi runner-up pada turnamen Srikandi Merdeka Cup 2026.
Pada laga final yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, skuad Garuda Pertiwi harus mengakui keunggulan tim nasional Thailand dengan skor tipis 0-1.
Timo menjelaskan bahwa perannya saat ini lebih condong sebagai penjaga gawang atau gatekeeper bagi bakat-bakat muda agar memiliki kesempatan menembus level kompetisi yang lebih tinggi.
Ia mengakui bahwa profesi pelatih di kelompok usia muda memang kurang mendapatkan sorotan publik dibandingkan pelatih tim senior.
“Enggak ada tanggapan. Saya inginnya melatih yang muda jadi gatekeeper-lah. Karena itu enggak ada yang kenal pelatih U-17,” ujar Timo saat memberikan keterangan pers pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Timo, panggilan jiwanya memang terletak pada proses pembentukan pemain daripada sekadar meramu taktik untuk tim yang sudah terbentuk.
Ia masih membuka peluang untuk menangani tim dengan kelompok usia yang sedikit lebih matang, seperti tim U-20.
Namun, ia menegaskan penolakan keras apabila harus melatih tim nasional senior karena alasan filosofi kepelatihan yang ia anut.
“Kalau U-20 masih mau sih, tapi di atas itu enggak mau. Karena saya maunya membina, menciptakan pemain,” jelasnya.
Timo mengeklaim bahwa kontribusinya dalam mencetak pemain bagi tim nasional telah terbukti dalam setiap generasi, baik di sektor putra maupun putri.
Ia menekankan bahwa melatih tim kelompok usia memiliki tingkat kesulitan dan tantangan tersendiri yang berbeda dengan melatih pemain senior.
Proses pencarian bakat atau scouting menjadi inti dari pekerjaannya yang membutuhkan integritas tinggi.
“Karena kan kalau pencarian bakat itu dua hal penting: satu objektivitas, enggak masuk angin, sama kemampuan, gitu,” tambah Timo.
Ia mengingatkan bahwa keahlian dalam melakukan pencarian bakat tidak dimiliki oleh semua pelatih, sehingga peran ini menjadi krusial bagi masa depan sepak bola Indonesia.
Dengan tetap berada di balik layar atau sebagai pembina, Timo berharap dapat terus menyuplai pemain berkualitas bagi kebutuhan tim nasional di masa depan.
Pernyataan ini sekaligus menutup spekulasi mengenai masa depan karier kepelatihannya setelah turnamen Srikandi Merdeka Cup 2026 berakhir.